Vegetasi alami lingkungan burung di kawasan Sunda Besar

Sebagian besar kawasan ini semula tertutup oleh hutan hujan tropis yang lebat, kecuali di daerah yang lebih kering di Jawa timur dan Bali, yang hutannya ditumbuhi pohon yang meranggas (meluruhkan daun) secara musiman. Berbagai tipe hutan yang mendukung berbagai komunitas burung diuraikan sebagai berikut.

Semak pesisir dan hutan pantai.

Tipe hutan ini adalah hutan dan semak belukar yang tidak rapat dan dapat tumbuh di atas pasir yang sulit menahan air. Hutan ini ditandai oleh adanya hutan Cemara Casuarina di atas gosong pasir, Buton Barringtonia asiatica, Mengkudu Morinda dtrifolia, Pandan Pandanus spp., Heritiera littomlis, dan deretan pohon kelapa. Hutan ini biasanya tidak begitu luas, hanya ada sedikit jenis burung yang agak umum.

Hutan Mangrove.

Merupakan hutan kusut yang rendah, tumbuh di antara zona pasang naik dan pantai berlumpur. Walaupun hanya mempunyai sedikit jenis pohon, seperti Bakau Rhizophora, Api-api Avicennia, dan Brugieria, hutan ini kaya akan ikan dan udang-udangan, sehingga sangat mendukung kehidupan burung-burung air dan beberapa jenis burung hutan yang umum. Hutan ini sangat luas di pesisir timur Sumatera, serta barat dan selatan Kalimantan, serta di beberapa tempat di sepanjang pesisir barat Sumatera dan pesisir utara dan pesisir timur Kalimantan. Hutan mangrove ini dulu terdapat umum sekali di pesisir utara P. Jawa, tetapi sekarang tinggal sedikit yang masih tersisa.

Hutan rawa gambut.

Merupakan hutan yang kerdil, aneka ragaman jenis pohon relatif rendah, karena tidak didukung oleh penyediaan air yang cukup. Kondisi agak asam, sehingga hanya jenis pohon khusus yang bisa bertahan hidup. Hutan seperti ini terdapat luas di pesisir timur Sumatera dan dataran pantai Kalimantan. Tipe hutan ini men-dukung adanya sekelompok jenis yang termasuk burung hutan dataran rendah dan beberapa jenis burung lahan basah yang penting.

Hutan rawa air tawar.

Merupakan hutan yang pohonnya tinggi di dataran rendah dengan air mengalir.Tumbuhan bawah agak jarang, tetapi palem dominan.Tipe hutan ini cukup luas di Sumatera dan Kalimantan, tetapi jarang ada di P. Jawa. Hutan ini mendukung kehidupan burung yang menarik dan kaya jenis, meskipun tidak sekaya hutan di atas tanah kering.

Hutan kerangas

Hutan yang khusus ini agak rendah, tumbuh di atas tanah berpasir yang miskin karena hara terhanyut, ditandai oleh akumulasi gambut yang dangkal. Tanah banyak mengandung benalu dan tanaman semak berbunga lain, mendukung komunitas burung yang miskin jenis, tetapi khas.

Hutan batu kapur.

Terdapat di beberapa lokasi di bagian utara dan timur Kalimantan, sela-tan Jawa, dan bagian tengah dataran tinggi Peg. Bukit Barisan (Sumatera). Bercirikan bukit kapur yang mengagumkan. Daerah ini penuh dengan gua, aliran air di bawah tanah, sehingga penyaluran air cenderung cepat dan mengandung tanah renzina yang khusus. Daerah ini mendukung hutan yang agak padat, tetapi kurang tinggi, terdiri dari jenis pohon khusus. Kehidupan burung agak miskin jenis, tetapi khas.

Hutan musim.

Hutan ini tidak luas, merupakan habitat yang agak terbuka mirip taman, dengan rumput di bagian bawahnya. Tipe hutan ini hanya terdapat di Jawa timur dan Bali, mendukung kehidupan burung yang kaya, walaupun tidak seaneka ragam hutan selalu hijau.

Hutan kayu besi.

Pohon Ulin (atau Belian) Eusideroxylon zwageri merupakan kayu yang berat dan tahan sangat lama. Pohon ini tumbuh di lahan yang lembab dan rendah di hutan Kalimantan dan Sumatera. Lebih sering merupakan salah satu jenis pohon di hutan hujan dataran rendah. Akan tetapi, di beberapa tempat di Kalimantan dan agak luas di Sumatera, jenis ini menjadi dominan dan membentuk hutan yang hampir homogen. Dibandingkan dengan hutan campuran, tipe hutan ini kurang banyak burungnya. Sekarang, sebagian besar tipe hutan ini telah rusak karena pengambilan kayunya yang berharga mahal.

Hutan hujan dipterokarp dataran rendah.

Tipe hutan ini merupakan hutan hujan yang paling tinggi dan paling lebat (sering dilukiskan dalam teks atau film).Jenis-jenis dari suku Dipterocarpaceae mendominasi tajuk utama, tetapi jenis-jenis Leguminosae, seperti Kempas Kompassia dan Merbau Intsia, membentuk tajuk yang menjulang tinggi dan lebih menonjol. Batangnya yang besar dan tidak bercabang didukung oleh akar banir, seluruhnya dihiasi oleh tumbuhan merambat, epifit, dan pohon ara yang berlimpah. Sungai-sungai besar membelah dataran ini, sedangkan sungai-sungai kecil mengalir ke lembah. Hutan ini paling bernilai ekonomis karena menghasilkan kayu gelondongan, akibatnya paling cepat berkurang karena dirusak manusia. Hutan ini sedang menghilang secara cepat di Kalimantan, hampir lenyap dari Sumatera, dan boleh dikatakan sudah hilang sama sekali di Jawa. Hal ini sangat disayangkan, karena habitatnya mendukung keanekaragaman jenis tumbuhan yang paling tinggi dan sangat kaya akan jenis-jenis burung, sehingga nilai konservasinya sangat tinggi.

Hutan dipterokarp perbukitan.

Di daerah yang berbukit-bukit, berbagai jenis dari Dipterocarpaceae mendominasi punggung bukit. Sisi bukit yang terjal ditutupi oleh hutan campuran yang kaya dengan relung burung. Tanah longsor yang sering terjadi membentuk susunan komunitas tumbuhan dalam berbagai tahap suksesi yang berbeda. Hutan ini merupakan habitat yang paling kaya bagi beraneka ragam jenis burung, tetapi sangat sulit untuk dilewati dengan berjalan kaki atau untuk melihat burung yang sedang terbang melewati tajuk pohon. Jenis hutan ini masih terdapat luas di Kalimantan dan Sumatera, tetapi sudah jarang di P. Jawa, sehingga pelestariannya menjadi masalah serius.

Hutan hujan tropis pegunungan bawah (submontan).

Pada ketinggian antara 1.000-1.200 m dpl, komposisi hutan sudah berubah. Dipterocarpaceae menjadi jarang. Hutan didomi-nasi oleh pohon Pasang Castanopsis, Quercus, dan marga lain dari daerah beriklim sedang. Keanekaragaman jenis burung masih cukup tinggi, banyak jenis endemik yang menarik ditemukan pada zona ini.

Hutan hujan tropis pegunungan atas (montan).

Hutan yang tertinggi ini kerdil, makin ke puncak gunung makin tertutup oleh lumut kerak dan lumut lain, anggrek epifit, dan paku dalam jumlah besar. Hutan ini kadang-kadang disebut hutan alpin. Tipe ini tidak mendukung keanekaragaman jenis burung yang sangat tinggi, tetapi sejumlah jenis burung endemik yang langka terdapat di sini.

Hutan pegunungan kering.

Pegunungan yang lebih kering terdapat di Jawa Timur dan Bali. Hutan itu biasanya didominasi oleh pohon Cemara Casuarina dengan rumput penutup di dasar hutan yang mudah terbakar. Hutan ini mempunyai sedikit jenis burung, tetapi beberapa di antaranya merupakan jenis yang jarang terdapat dan menarik bagi peneliti burung.

Semak alpin.

Habitat ini berada di atas garis tumbuh pohon, pada gunung-gunung yang paling tinggi di wilayah ini. Semak seperti ini biasanya didominasi oleh semak suku Eficaceae, misalnya Vacdniutn, ditambah tumbuhan seperti Schima, Potentilla, dan Hypericum. Habitat ini secara keseluruhan tidak begitu luas, mendukung bagi hanya sedikit jenis burung. Karena bagian puncak gunungnya sangat terisolasi dan ternyata beberapa jenis burung memperlihatkan tingkat endemik yang tinggi, maka jenis-jenis burung yang sangat menarik dapat ditemukan di sini. (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s