Tempat-tempat penting pengamatan burung di Kalimantan

Terdapat lebih dari 300 cagar alam resmi bagi burung di Kawasan Sunda. Semuanya sangat menarik bagi pengamat burung. Di samping itu, berbagai jenis burung juga ter-dapat di habitat liar dan habitat semiliar dalam kawasan konsesi kayu, hutan pedesaan, kawasan penghutanan kembali, dan di semak belukar.

Burung-burung juga sering di-temukan di pantai dan rawa. Selama beberapa tahun terakhir, banyak jenis yang baru ter-catat dari habitat ini, yaitu di sepanjang jalur laut yang jauh dari daratan. Agar uraian berikut ini lebih bermanfaat bagi pengamat burung yang tekun, tetapi waktunya ter-batas, maka telah diseleksi 20 cagar alam yang meliputi semua habitat burung di kawasan ini.

Uraian singkat tentang setiap cagar alam, termasuk petunjuk untuk mencapai setiap lokasi, dan aspek yang diharapkan dapat dilihat dalam uraian berikut ini. Lokasi cagar alam diperlihatkan pada peta di bawah ini.

Lampiran 1 berisi daftar jenis endemik regional dan semua jenis yang termasuk ke dalam buku BirdLife International “Birds to watch 2” (Collar dkk. 1994), yang ditemukan di setiap lokasi dari 20 kawasan lindung tersebut, sehingga seorang pengamat dapat merencanakan perjalanannya berdasarkan aspek yang ingin dilihatnya.

Tempat-tempat Penting di Kalimantan

Gunung Kinabalu. Merupakan Taman Nasional pertama di Sabah yang menjadi taman teladan. Pengamat burung berkesempatan mengunjunginya. Kinabalu merupakan pusat penyebaran burung-burung pegunungan Kalimantan, kecuali Kepudang hitam Oriolus /josi’i’.Taman Nasional yang luasnya 754 km2 ini mempunyai puncak tertinggi di AsiaTenggara (4.101 m), mudah dicapai, melalui jalan setapak. Sarana penginapan yang sangat bagus juga tersedia.

Markas besarTaman Nasional berada pada ketinggian 1.500 m, merupakan tempat yang sangat cocok untuk memulai eksplorasi fauna dan flora pegunungan. Tempat kedua terdapat di dataran rendah di Poring, di hutan Dipterocarpaceae perbukitan. Tersedia jalan di atas punggung bukit di tajuk pohon, merupakan sarana untuk mengamati burung-burung pada ketinggian tajuk. Sebanyak 289 burung telah tercatat di Taman Nasional tersebut, termasuk yang jarang dijumpai dan jenis endemik yang hanya ditemukan di puncak tertinggi Kalimantan.

Mengunjungi G. Mulu merupakan sebuah petualangan. Pengunjung naik perahu dari kota pantai Miri, menyusuri S. Baram sampai Tutoh dan sungai Malinau, terus ke markas besar di Long Pala. Beberapa bivak di hlitan menyediakan tempat bagi pengunjung untuk tinggal selama beberapa hari. Pengunjung dapat mengeksplorasi dan menikmati pemandangan yang indah, berupa gua-gua yang sangat besar, puncak-puncak batu kapur yang menakjubkan, dan pemandangan yang mengagumkan dari atas pung-gung bukit yang tinggi.

Hutan di sini beragam, baik dalam ketinggian maupun dalam bentuknya, bergantung kepada drainase dan tipe batunya, sehingga tingkat keanekaraga-man burung sangat tinggi. Lebih dari 260 jenis telah tercatat di sini, termasuk 20 jenis endemik dan seluruh jenis suku rangkong, takur, dan burung madi yang ada di Kalimantan. Untuk melakukan pengamatan burung di hutan yang lebat ini, harus diren-canakan waktu yang memadai untuk mengeksplorasi hutan secara menyeluruh. Ada suatu atraksi yang sangat menarik setiap petang hari, yaitu Elang kelelawar yang memangsa kelelawar yang muncul secara massal dari Deer Cave.

Kawasan konservasi Danum Valley merupakan hutan hujan tropis dataran ren-dah seluas 438 km2 dalam kawasan konsesi Sabah Foundation. Kawasan konservasi ini terdiri dari hutan dataran rendah dan hutan Dipterocarpaceae perbukitan, dengan habi-tat sekunder dan habitat sungai. Hutan pegunungan yang sempit terdapat di sekitar G. Danum (pada ketinggian 1.093 m). Di suatu stasiun yang didirikan untuk penelitian ilmu pengetahuan, burung-burung telah dipelajari secara mendalam.

Kawasan ini dapat dimasuki melalui jalan darat dari Lahad Datu, atau jika Anda mempunyai cukup waktu, dapat ditempuh dengan perahu melalui S. Segama, melewati Gua Tapodong yang menarik dan habitat orangutan di S. Bole. Kebanyakan burung hutan dataran rendah di Kalimantan dapat dilihat di sini, terutama rangkong, luntur, paok, Tiong-batu Kali-mantan, dan Berencet leher-hitam. Sebanyak 240 jenis burung telah dicatat di sini dan di hutan Ulu Segama yang berdekatan dengan cagar alam ini. Orangutan dan kadang-kadang gajah, badak, dan banteng (tembadau), juga ditemukan di sini.

Taman Suaka Margasatwa Samunsam terletak di ujung barat Sarawak,Tanjung Datu, di perbatasan antara Malaysia dengan Indonesia. Kawasan ini terpencil, dengan hutan belantara yang luas dan garis pesisir yang beragam, tempat penyu bersarang dan burung perancah mencari makan. Daerah pedalamannya mempunyai berbagai tipe hutan sampai pada ketinggian 1.200 m, luasnya menjadi 209 km2. Suaka margasatwa ini merupakan kawasan konservasi yang terbatas, pengunjung harus mendapatkan ijin khusus untuk memasukinya. Tempat ini memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk mengenal berbagai fauna burung Kalimantan, seperti burung luntur, takur, rangkong, madi, pelatuk, dan cabak, serta beberapa jenis lain yang langka, misalnya Tiong-batu Kalimantan, Bangau Storm, Tokhtor Sunda dan Elang perut-karat. Bekantan merupakan suatu atraksi setempat.

Suaka Margasatwa Lanjak Entimau. Kawasan ini berukuran besar dan asli, seluas 1.688 km2, terbentang di sepanjang perbatasan selatan Sarawak dan berdekatan dengan kawasan yang lebih luas,yaitu Bentuang dan Karimun (6.000 km2) di wilayah Indonesia. Daerah yang termasuk wilayah Indonesia tidak pernah disurvai, sedangkan yang termasuk wilayah Sarawak hanya disurvai dengan menggunakan helikopter. Oleh karena itu daftar burung di tempat ini tidak lengkap. Walaupun demikian, kawasan konservasi ini tetap sangat penting dan sedikit sekali dirusak manusia. Orangutan, bahkan mungkin badak, masih ada di sini. Kawasan konservasi ini dapat dicapai melalui jalan darat, kemudian melalui sungai dari Kanowit. Kawasan ini biasanya tertutup, pengunjung yang ingin masuk harus mendapatkan ijin khusus. Jenis-jenis burung menarik yang pernah dicatat adalah Sempidan Kalimantan, Puyuh kepala-merah, Elang Wallace, Cabai tungging-coklat, dan Sikatan biru-langit.

Taman Nasional Kutai merupakan cagar alam terluas di pantai timur Kalimantan (seluas 2.000 km2). Merupakan habitat yang baik karena di situ terdapat hutan mangrove, hutan sungai, hutan dataran rendah, hutan kayu besi, dan hutan kerangas di beberapa tempat. Kawasan ini dulu sangat kaya dengan kehidupan satwa liar, termasuk orangutan, badak, dan banteng. Sayang sekali, sebagian kawasan ini sekarang telah dirusak oleh penebangan hutan, kebakaran hutan, dan dijadikan lahan pertanian. Akibatnya, nilai konservasinya menjadi sangat menurun. Namun, fauna burung di sini masih cukup utuh. Kebanyakan burung dataran rendah agak mudah ditemukan di hutan yang terbuka. Taman nasional ini dapat dicapai melalui jalan dari Samarinda dan Bontang.Jumlah total jenis burung yang sudah tercatat adalah 236.

Taman Nasional Gunung Palung. Terdapat drpantai barat Kalimantan, memiliki ciri khas. Puncak gunung ini berbentuk sepatu kuda, dengan ketinggian 1.100 m dpl (di atas permukaan laut), yang muncul di atas hutan rawa yang rata di sekitarnya, berbentuk seperti “pulau”, terdiri dari hutan Dipterocarpaceae yang tinggi dengan topi berupa hutan pegunungan yang menarik. Cagar alam seluas 900 km2 ini merupakan tempat tinggal orangutan dan primata lainnya, juga kaya dengan fauna burung sejumlah 240 jenis (Laman et al. 1997). Ada stasiun lapangan untuk penelitian ilmu pengetahuan di lereng selatan gunung ini. Pengunjung juga dapat menyewa sebuah perahu dan berlayar sepanjang Sungai Matan ke desa-desa di Kampong Baru untuk mengeksplorasi gunung dari utara. Jenis-jenis burung di sini secara umum mewakili suku-suku burung dari dataran rendah Kalimantan. Cagar alam ini juga merupakan tempat tinggal jenis burung tertentu yang jarang ditemukan, misalnya Enggang jambul, Kuau-kerdil Kalimantan, Tiong-batu Kalimantan, dan Poksai hitam. Sebagai informasi tambahan, terdapat tem-pat Betet ekor-panjang bermalam di dekat pantai. Setiap pagi dan sore, pengunjung dapat menyaksikan lusinan burung tersebut, terbang ribut melewati kota Sukadana.

Taman Nasional Tanjung Puting. Taman Nasional seluas 300 km2 ini dapat dicapai dengan perahu dari kota dan lapangan terbang Palangkaraya. Terkenal karena orangutannya, juga merupakan tempat yang mengagumkan untuk rnengamati burung. Kawasan ini terletak rendah di atas permukaan laut, terdiri dari hutan kerangas, hutan rawa, dan padang terbuka kering yang banyak pasirnya. Perjalanan umumnya dilakukan dengan perahu, melalui jalan setapak yang basah di sekitar stasiun penelitian orangutan. Di dalam taman nasional ini ada sekelompok danau yang merupakan habitat bersarang yang cukup penting bagi burung air. Danau-danau ini hanya dapat dicapai dengan eks-pedisi yang telah direncanakan dengan baik. Di kawasan ini terdapat tipe hutan yang lebih kerdil dan lebih terbuka dibandingkan dengan hutan Dipterocarpaceae yang

mc’nutupi sebagian besar Kalimantan. Pohon ara Ficus yang besar tidak ditemukan. Kangkong jarang ditemukan di sini, tetapi berbagai jenis lain lebih mudah dilihat, seper-(i Paruh-kodok Jawa, Bangau Storm, Sempidan Kalimantan, Kuau-kerdil Kalimantan, iliin Puyuh hitam. Sebanyak 218 jenis telah dicatat di taman nasional ini, tetapi daftar ini sebenarnya masih belum lengkap.

Daerah Penelitian Barito Ulu. Daerah ini belum diresmikan sebagai cagar alam, masih dalam pengusulan. Banyak dilakukan penelitian lapangan di sini. Daerah ini dapat ilicapai dengan taksi air, menyusuri S. Barito ke Muaratewe, kemudian dengan menyewa sainpan ke Muarajulai dan ke kaki Perbukitan Mueller. Secara geografis, tempat ini borada hampir di tengah Kalimantan. Sejak dulu kawasan ini menjadi pertanyaan besar mengenai penyebaran burung.

Akhir-akhir ini daerah ini dinyatakan sebagai daerah yang kaya dengan jenis burung, lebih dari 230 jenis telah dicatat, termasuk 15 jenis yang t’iidemik Kalimantan. Beberapa jenis telah ditemukan (yang dulunya diperkirakan hanya liidup di P. Kalimantan atau di pegunungan), termasuk Elang gunung, Puyuh-gonggong Kalimantan, danTakur leher-hitam. Di kawasan ini juga terdapat beberapa jenis burung y:tng diperkirakan merupakan burung-burung dataran paling rendah, yaitu Tiong-batu Kalimantan dan Puyuh hitam. Jenis-jenis lain yang menarik adalah Paok kaluhg-biru, Sempidan Kalimantan, Elang kelelawar, Sipinjur Melayu, Empuloh paruh-kait, Opior Kalimantan, dan Ibis karau yang langka. Jika Anda berniat mengunjungi tempat ini, disarankan untuk membawa obat malaria, karena beberapa pengunjung pernah terkena malaria yang cukup parah di sini.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s