Teknik-teknik lapangan untuk mengamati burung.

Mengamati burung merupakan suatu hobi yang sangat menarik. Semakin banyak pengalaman seorang peneliti burung maka akan semakin baik dan semakin tajam pula pengamatannya. Pemerhati burung berfungsi seperti mata dan telinga untuk mengawasi keadaan planet kita. Daftar jenis dan pengamatan mereka sangat penting bagi ilmuwan dalam menentukan upaya pelestarian lingkungan.

Di dalam Buku Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan panduan lapangan untuk membantu pengamat burung agar pengamatannya lebih teliti, berarti, dan betul-betul berguna bagi instansi yang terkait.

Petunjuk untuk mengamati burung di hutan

Meneliti burung dalam hutan yang berpohon tinggi tidak mudah. Kadang-kadang, Anda harus berjalan kaki selama setengah jam tanpa melihat apa-apa. Kemudian, secara tjba-tiba Anda dikelilingi banyak kicauan burung, tetapi tidak dapat memfokuskan pengamatan kepada salah satu di antaranya. Seekor burung mungkin berada di tempat yang tinggi dan tidak begitu jelas kelihatan karena terhalang oleh rapatnya dedaunan. Kondisi lain yang dapat mengganggu pengamatan misalnya dalam keadaan hujan, tero-pong Anda basah terkena air, sehingga pemandangan menjadi kabur.

Pendatang baru ke hutan sebaiknya mengawali pengamatan terhadap jenis-jenis burang yang umum di pinggir hutan, dengan berjalan di sepanjang jalan yang lebar. Pengamatan akan lebih baik dan burung-burung yang muncul akan lebih banyak, karena sisi hutan dapat ditembus cahaya matahari, sehingga umumnya sangat kaya akan makanan burung. Beberapa jenis burung pada tajuk hutan dapat diHhat di sepanjang jalan. Bila jalan hutan tersebut melintasi pegunungan, Anda akan mendapatkan peman-dangan sisi tajuk yang sangat bagus, yang mungkin tidak akan Anda dapatkan jika berada di jalan setapak kecil dalam hutan.

Gangguan pacet mungkin bisa ditolerir oleh pengamat burung yang telah terbiasa, tetapi mungkin akan membuat pendatang baru menderita. Ada beberapa cara untuk mengurangi hambatan tersebut, misalnya dengan memakai dua pasang kaus kaki berlubang halus atau menyemprotkan penangkis serangga (shelltox atau benzyl benzoat) ke dalam sepatu boot.

Kelembaban hutan hujan tropis biasanya menimbulkan masalah terhadap binokuler, kamera, dan kacamata. Karena itu, usahakan agar tas/ransel Anda cukup tahan air, sim-pan peralatan dalam kantong plastik, bungkus dengan kain/kertas kering yang dapat menyerap atau dalam kantung berisi silika jel. Jika Anda memakai kacamata dalam keadaan hujan sedangkan Anda harus mengamati sesuatu, laplah kacamata tersebut

sampai kering dengan sepotong kulit yang lembut. Jika bagian dalambinokuler basah, maka keringkan sesegera mungkin. Cara yang cepat untuk mengeringkannya adalah dengan menghadapkan lensa ke arah matahari, menyimpannya semalaman dalam kotak pengering, atau memegangnya erat-erat ketika Anda tidur. Cara yang lebih ckstrem lagi adalah menghangatkan binokuler tersebut di dekat api unggun, tetapi berisiko memperpendek umur teropong Anda dengan sangat cepat.

Ketika membeli binokuler, pilihlah jenis yang tahan air, sehingga tahan selama bertahun-tahun. Binokuler yang murah tidak selalu ekonomis. Untuk pengamatan di hutan, penting juga memilih perbesaran yang relatif kecil dengan lubang lensa yang lebar.Teropong yang pembesarannya hebat, tetapi sudutnya sempit kurang cocok untuk di hutan. Penggunaan teleskop juga tidak dianjurkan. Teropong yang berukuran sangat kecil dan ringan tidak banyak manfaatnya.

Biasanya, pengamat burung berjalan lambat melewati hutan, berusaha untuk tidak melewatkan satu puri obyek pengamatan. Sikap ini cocok sekali untuk meneliti jenis-jenis burung pada tajuk, pengamatan terhadap beberapa burung permukaan tanah, seperti Ayam hutan, sempidan, paok, dan anis, akan terlewatkan. Jenis-jenis burung ini selalu waspada, dapat mendengar Anda dari jauh dan dengan cepat menghilang sebelum sempat dilihat. Untuk itu, Anda perlu berjalan lebih cepat, tetapi tidak berisik, untuk mengamati burung-burung pemalu ini. Duduk dengan tenang dan sabar di atas kayu juga mendatangkan suatu keuntungan. Anda harus menunggu beberapa saat, tetapi akan dapat memandang burung yang tidak Anda lihat dengan cara lain.

Idealnya, Anda melakukan ketiga metode pengamatan di atas secara bergantian. Berjalan perlahan-lahan, berjalan cepat namun tidak berisik, kemudian beristirahat menunggu dengan tenang. Tempat menunggu yang menguntungkan adalah pohon ara Ficus, pohon berbunga merah, rumpun pohon benalu, atau di dekat kolam dan aliran sungai. Pembicaraan dengan kawan hendaknya seminimum mungkin. Jika Anda ditemani penunjuk jalan atau porter, bujuk mereka untuk berdiam diri atau menjaga jarak. Pergunakan pakaian yang berwarna tidak mencolok, hindari warna putih. Ada tiga metode yang dapat digunakan pengamat untuk memanggil burung agar mau menampakkan diri, yaitu:

1. Pishing (atau spishing), yaitu menirukan bunyi desis, mencicit, atau suara parut. Hal ini dapat membuat marah burung-burung kecil yang suka bersembunyi (terutama burung pengoceh), sehingga menyahut atau bahkan muncul dari “tempat persem-bunyiannya”, untuk memeriksa sumber suara tersebut.

2. Menirukan suara burung belukwatu atau jenis elang yang kecil sehingga memancing burung-burung kecil untuk datang berkerumun.

3. Menggunakan rekaman suara dari tape recorder, yang menimbulkan reaksi teritorial dari burung bersangkutan, sehingga mau menghampiri.

Jauh di dalam hutan belantara, ketiga metode ini dapat diterapkan.Tetapi tampaknya kurang tepat untuk diterapkan di tempat yang sering dikunjungi pengamat burung, misalnya di sepanjang jalan-jalan kecil di dalam taman nasional. Di lokasi seperti ini mungkin teknik-teknik tersebut perlu dilarang, karena dapat mengganggu tingkah laku teritorial dan kegiatan berbiak burung setempat atau mengurangi respon terhadap suara bahaya alami dari burung liar. Hal ini terutama berlaku untuk teknik dengan tape recorder.

Burang (terkecuali burung malam) adalah satwa yang paling aktif pada pagi hari. Karena itu, pagi hari merupakan waktu yang paling baik untuk melakukan pengamatan. Aktivitas burang menurun menjelang tengah hari.Aktivitas puncak pada sore hari tidak seenergik pada pagi hari, meskipun kadang-kadang puncak “pagi semu” terjadi sesudah hujan yang cukup lama.Tengah hari dan akhir siang hari merupakan waktu yang cukup baik untuk menunggu burung mengunjungi sumber air pada musim kemarau. (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s