Populasi manusia, penggunaan lahan dan habitat burung

Pulau Jawa dan Bali tnerupakan wilayah yang penduduknya terpadat di dunia, yaitu 96 juta jiwa penduduk dengan kepadatan 800 jiwa/km2.Jumlah ini populasinya masih terus bertambah 2% per tahun. Tentunya tidak mengherankan jika hutan tinggal sedikit dan tekanan terhadap habitat burung sangat tinggi. Kurang dari 10% luas total masih tertutup hutan alami, tetapi banyak di antaranya telah dipengaruhi oleh manusia.

Sisa hutan ini ditemukan di lereng pegunungan yang lebih tinggi atau tempat-tempat yang tidak subur dan terpencil. Hanya kantung-kantung kecil dari hutan dataran rendah yang masih tefsisa di cagar alam dan taman nasional. Tanah yang sudah ditebang habis, dipenuhi oleh lahan persawahan di daerah yang rata, lahan pertanian kering di pedalaman, serta perkebunan jati, Pinus, dan Damar Agathis di lahan kehutanan. Kebanyakan desa mempunyai hutan rakyat, yang ditumbuhi durian, rambutan, mangga, aren, dan bambu, yang memberikan tempat berteduh bagi berbagai jenis burung di daerah pedesaan.

Kepadatan penduduk di Sumatera tidak terlalu tinggi, hampir 80 jiwa/km2. Akan tetapi, tartah di Sumatera tidak sesubur tanah di Jawa. Akibatnya penduduk di P. Sumatera melakukan tebang habis hutan rata-rata enam kali lipat dibandingkan dengan di P Jawa. Lagi pula, pertumbuhan penduduk di Sumatera jauh lebih tinggi (sekitar 3,3 % per tahun), disebabkan oleh kombinasi antara angka kelahiran yang tinggi dan laju transmigrasi dari P. Jawa. Pertumbuhan ini menyebabkan hutan-hutan di Sumatera berkurang dengan sangat cepat. Rangkaian utama Bukit Barisan masih berupa hutan, tetapi batas ini dilanggar oleh petani kopi sampai pada ketinggian lebih dari 1.000 m.

Di Sumatera masih terdapat hutan rawa dan hutan mangrove yang cukup luas, tetapi nasibnya juga memprihatinkan karena telah dicadangkan untuk konversi menjadi lahan pertanian dan transmigrasi. Akibatnya hutan ini juga dengan cepat mengalami kerusakan. Selain cagar alam yang mendapat perlindungan khusus, hutan dataran rendah yang kering hampir hilang. Bahkan hutan ini mendapat tekanan dari kegiatan eksploitasi ilegal. Banyak lahan hutan telah dikonversi menjadi lahan perkebunan karet atau kelapa sawit, sehingga habitat menjadi miskin untuk kehidupan burung dan lahannya menjadi rusak dan berubah menjadi belukar atau padang alang-alang.

Kepadatan penduduk di Kalimantan jauh lebih rendah, hanya 12 jiwa/km2. Ini menggambarkan kesuburan tanahnya jauh lebih rendah. Walaupun demikian, hutan dataran rendah di sini bernilai ekonomis tinggi dan telah terbukti sangat menguntungkan. Lahan hutan asli yang sangat luas telah ditebang dengan sistem tebang pilih.

Tidak seperti di Sumatera, lahan bekas tebang biasanya tidak dikonversi menjadi lahan pertanian, tetapi dibiarkan tumbuh kembali menjadi bentuk hutan baru. Bentuk hutan yang baru ini tidak sekaya hutan aslinya, tetapi masih merupakan habitat yang lebih baik untuk burung-burung dibandingkan dengan lahan pertanian atau perkebunan. Sekitar 60% wilayah P. Kalimantan tetap berupa hutan alam, dibandingkan dengan hanya 30% di Sumatera dan kurang dari 10% di Jawa. Luas lahan pertanian permanen di Kalimantan hanya sedikit, tetapi cukup luas yang dibuka untuk perladangan berpindah, sekarang telah menjadi padang rumput alang-alang. Pada daerah yang lebih subur di beberapa lokasi dijumpai kebun-kebun lada, coklat, dan kelapa sawit. (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s