Nilai Burung bagi Perekonomian dan Kebudayaan Setempat

Jenis burung walet mempunyai nilai industri di kawasan ini. Sarang dua jenis burung ini yang secara rutin dipanen yaitu sarang Collocalia fuciphaga yang paling mahal (dikenal sebagai sarang putih yang hampir seluruhnya dibuat dari ludah murninya) dan sarang Collocalia maxima (dikenal sebagai sarang hitam) yang harganya tidak semahal sarang putih, karena banyak bulu hitam yang bercampur dengan liurnya sehingga perlu dibersihkan dengan hati-hati.

Sarang burung-burung ini dapat ditemukan di dalam gua atau celah-celah batu karang, terutama di daerah batu kapur. Lokasi pemanenan utama adalah Nusa Barung di pantai selatan P. Jawa, Sangkulirang di Kalimantan Timur, gua Sabah (Tapadong, Madai, dan Gomantong), dan Sarawak (daerah Niah, Mulu, dan Baram). Beberapa metode pengumpulan sangat sulit dan berisiko tinggi, contohnya memanjat tiang bambu yang lemah setinggi lebih dari 30 meter, untuk mengambil sarang burung dari langit-langit gua yang gelap gulita.

Di beberapa lokasi, kontrol pemanenan dilakukan dengan baik demi menjamin prmanenan secara berlanjut, tetapi di banyak lokasi lain, pemanenannya berlangsung secara berlebihan sehingga populasi burungnya menurun. Di P. Jawa, banyak rumah khusus dibangun untuk menarik walet bersarang di dalamnya. Singapura merupakan negara utama pengelolaan sarang burung, sebelum diekspor ke Hongkong, Taiwan, Amerika Serikat, dan Kanada.

Sebagai gambaran nilai ekonomi sarang tersebut, impor ke Hongkong saja bernilai 360 juta dolar AS pada tahun 1990.

Perdagangan burung untuk dipelihara dalam sangkar juga sangat memprihatinkan. Suatu jaringan pengumpulan burung menyalurkan burung (diduga berjumlah sampai sejuta ekor burang per tahun) inelalui Jakarta dan Singapura. Jenis burung yang dijual meliputi kakatua, nuri, jalak, pipit, kutilang, decut, burung kacamata, murai batu, tekukur, dan ayam hutan.

Burang-burang sangkar juga merupakan binatang peliharaan yang populer di Indonesia dan Malaysia. Burung yang dipelihara untuk memenuhi permintaan domestik sama jumlahnya dengan yang diekspor. Beberapa jenis burung dilaporkan hampir lenyap akibat kegiatan ini, misalnya: cucakrawa, jalak, murai batu, dan perkutut di Jawa. Perlu dicatat bahwa sekarang stok burung di pasar juga banyak yang diimpor dari Cina. Hal ini mungkin menunjukkan bahwa sumber domestik tidak mencukupi lagi untuk memenuhi permintaan.

Jenis burung yang dulu banyak diburu ialah Rangkong gading. Paruhnya yang mengandung gading dicari oleh seniman Cina untuk mengukir patung ho-ting. Harga kepala burung ini masih tetap tinggi, tetapi sekarang jenis ini dilindungi di seluruh wilayah penyebarannya dan perdagangannya dilarang.

Di dataran tinggi Kalimantan, keberadaan burung dapat dijadikan kalender. Lahan pertanian dikerjakan lantas disemai, bertepatan dengan kedatangan dan lewatnya burung kicuit Motadlla yang bermigrasi. Suku Iban dan Suku Dayak lainnya di Kalimantan lebih jauh lagi menggunakan kebudayaan pemakaian burung sebagai petunjuk ini. Mereka telah mengembangkan ilmu pengetahuan tentang burung sebagai pertanda (memiliki banyak kesamaan dengan ahli nujum pada zamanYunani dan Romawi Kuno). Singalung Burong dalam bentuk Elang bondol dianggap manusia sebagai mandor bagi sejumlah burung pertanda – Luntur putri, Cekakak batu, Tangkar ongklet, dan lain-lain yang merupakan pesuruh khususnya. Burung-burung ini dianggap manusia sebagai pemandu tindakannya.Tingkah laku khusus atau panggilan dari burung-burang pertanda ini diartikan sebagai peringatan atau tanda untuk memulai suatu kegiatan. Kejadian penting, seperti membangun ramah, membersihkan lahan baru, atau berangkat berburu, harus didahului oleh adanya suatu pertanda yang baik dari sejenis burung-burung tersebut.

Memburu kepala (ngayau) dan peperangan didahului oleh upacara (gawat) yang sangat rumit dengan memanggil roh nenek moyang melalui simbol patung burung rangkong. Roh-roh ini terlebih dulu bergerak di depan prajurit-prajurit untuk menghancurkan roh pelindung dari musuh, sebelum serangan yang sebenarnya dimulai. Nelayan menghormati cikalang dan rombongan camar, karena berguna sebagai pemandu untuk menemukan kawanan ikan tongkol dan tuna yang merupakan mata pencaharian mereka. Nelayan membiarkan tempat bersarang burang ini, tetapi telur-telur yang besar dari burung gosong dipanen di mana saja ditemukan.

Burung-burung lain yang bermanfaat adalah kuntul, burung perenjak, yang hidup di sawah dan memakan serangga hama dalam jumlah besar; serta elang yang dapat mengusir hama tikus yang menyerang lahan pertanian.

Di sisi lain, kelompok burang bondol membahayakan panen padi. Berbagai peralatan dirancang untuk mengusir burung ini dan melindungi padi yang masak, misalnya dengan menggunakan benda ringan yang ditiup angin, lonceng, bendera, orang-orangan, atau anak kecil yang bersembunyi di gubuk mungil, mengendalikan tali-tali yang disambung dengan giring-giring di seluruh sawah. Ini seperti suatu peperangan yang dimenangkan manusia. Tingkat pemangsaan tanaman pangan oleh burung menurun drastis dibandingkan dengan 30 tahun yang lalu. Beberapa jenis yang dulunya datang dalam jumlah ratusan ribu, misalnya gelatik dan Bondol hijau, sekarang jarang dan bahkan sudah punah di beberapa tempat. (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s