Konservasi Burung

Karena besarnya jumlah penduduk dan meningkatnya tekanan eksploitasi terhadap semua sumber daya yang memihki nilai ekonomi, maka tidak dapat dihindarkan bahwa alam befada dalam status kemunduran. Hutan didesak sampai ke puncak gunung yang paling tinggi, burung-burung diburu untuk dimakan, untuk olahraga, atau dijual. Bagaimana burung-burung ini dapat bertahan menghadapi perubahan yang terus berlangsung? Tindakan koriservasi apa yang telah diambil untuk melindungi mereka?

Alam di Jawa dan Bali paling banyak mengalami perubahan, karena 68% populasi penduduk Indonesia tinggal di kedua pulau ini (yang luasnya hanya 10% luas total Indonesia). Hanya 10% luas P.Jawa dan Bali yang masih tetap merupakan hutan, umum-nya ada di daerah pegunungan. Hutan dataran rendah sudah hampir tidak ditemukan. Kurang dari 3% yang masih tertutup pepohonan dan hanya tinggal separuhnya meru-pakan kawasan yang dilindungi.

Tidak mengherankan jika beberapa jenis burung tam-paknya benar-benar telah menghilang dari P. Jawa. Beberapa jenis sudah tidak terlihat selama beberapa tahun terakhir, bahkan beberapa jenis lainnya memang sudah jarang ditemukan. Lampiran 1 dan 2 memperlihatkan jenis-jenis utama yang status konser-vasinya sangat memprihatinkan.

Hilangnya jenis-jenis burung di P.Jawa tentunya memerlukan perhatian yang serius, karena dapat dijadikan indikator untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di pulau-pulau lainnya di Sunda Besar, terutama karena adanya penebangan hutan. Studi penye-baran burung hutan, dalam berbagai ukuran, sisa hutan di Jawa (van Balen, 1987) mem-perlihatkan beberapa pola yang menarik. Misalnya, P. Jawa memperlihatkan suatu profil yang abnormal dalam penyebaran burung pada berbagai ketinggian. ‘Pada diagram di halaman 21, diperlihatkan proporsi jenis burung yang hidup pada berbagai ketinggian dpl (di atas permukaan laut) di Jawa dibandingkan dengan proporsi di Kalimantan dan Sumatera.

Grafik untuk Kalimantan dan Sumatera merupakan gambaran umum untuk daerah tropis seperti.di P. Irian. Grafik tersebut menunjukkan kekayaan jenis burung yang maksimal di hutan dataran rendah yang kering, dengan pengurangan jumlah jenis secara bertahap, sesuai dengan peningkatan ketinggian.Jumlah jenis hanya sedikit diim-bangi oleh penambahan sejumlah jenis burung pegunungan yang muncul pada berbagai ketinggian.

Grafik untuk P. Jawa terlihat agak aneh, memperlihatkan penurunan jumlah jenis burung yang tajam pada zona bukit antara ketinggian 300-1.500 m. Hal ini diinterpretasikan sebagai akibat dari pembabatan hutan dalam jangka waktu panjang. Jenis-jenis burung dataran rendah gagal bertahan pada zona perbukitan, tempat mereka diperkirakan dapat hidup dalam hutan. Ini disebabkan oleh terputusnya populasi di perbukitan dengan populasi sejenis di dataran rendah (yang biasanya mendukung kelangsungannya dengan rekolonisasi dan suplai yang teratur). Kita dapat melihat contoh kecil, tetapi didokumentasikan dengan baik, yaitu kasus Kebun Raya Bogor.

Pada tahun 1947, Hoogerwerf menulis sebuah buku mengenai burung di Kebun Raya yang meliputi 142 jenis. Beberapa jenis di antaranya merupakan pengunjung teratur atau pengunjung kadang-kadang, tetapi lebih dari 100 jenis merupakan pengunjung teratur. Sekarang burung yang terlihat dengan teratur di sini hanya tinggal 40 jenis. Hanya 81 jenis masih terlihat pada dua puluh tahun terakhir (merupakan kehilangan kekayaan sebanyak 46%). Jenis burung lain yang dulu umum, sekarang menjadi langka, meskipun habitat di Kebun Raya masih sama saja (bahkan masih kelihatan seperti surga bagi burung). Penyebab perubahan ini adalah kehilangan hutan di sekitar Bogor, sebagai efek firag-mentasi dan terisolasinya hutan. Dalam skala yang lebih besar, sebenarnya hal ini telah berlangsung sejak lama di seluruh dataran rendah di Jawa.

Suku dengan anggota yang berukuran lebih besar, secara proporsional akan berku-rang lebih banyak dibandingkan dengan suku yang terdiri dari burung-burung kecil. Jadi, lima dari tujuh (70%) burung cabai Dicaeum di Sumatera masih ada di Jawa, tetapi hanya dua dari enam kadalan Phaenicophaecus, satu dari lima Paruh-kodok Batra-chostomus, satu dari lima burung Asi Malacopteron, satu dari lima luntur Harpactes, dan dua dari tujuh sikatan Cyomis, dapat bertahan di P. Jawa. Pola lain memperlihatkan bahwa di P. Jawa, tingkat penurunan jumlah burung hutan dataran rendah lebih nyata diban-dingkan dengan burung di hutan sekunder, pinggir hutan, atau habitat terbuka.

Dalam kaitannya dengan ukuran kantung habitat, penemuan van Balen dengan jelas memperlihatkan bahwa hutan dengan luas kecil akan kehilangan jenis lebih banyak dibandingkan dengan hutan yang lebih luas. Angka kepunahan pada hutan seluas 10-40 hektar lebih besar (yakni 80%), dibandingkan dengan angka kepunahan sebesar 25% untuk hutan seluas lebih dari 10.000 hektar. Hasil ini penting untuk pembuatan pola cagar alam. Lebih dari seratus cagar alam telah didirikan di P. Jawa dan Bali, tetapi kebanyakan di antaranya luas hutan yang sangat kecil dan tidak cukup untuk melindungi komunitas burung secara sempurna. Hanya ada dua belas kawasan lindung yang luasnya lebih dari 100 km2, yaitu di sepanjang pantai selatan.

Perusakan lahan-lahan basah, hutan mangrove, dan hutan rawa di sepanjang pesisir utara Jawa juga mengancam kehidupan beberapa jenis burung yang lebih menarik di Jawa. Kegiatan tersebut menyebabkan Trulek Jawa punah, Bubut Jawa sangat jarang, Mentok rimba mungkin punah, Kacamata Jawa sangat jarang, dan Bangau bluwok menurun menjadi hanya satu koloni berbiak. Penangkapan ratusan ribu burung air yang bermigrasi di sepanjang pesisir utara, yang kemudian dijual sebagai makanan di pasar setempat, juga sangat membahayakan keberadaan jenis-jenis tersebut sehingga jumlah-nya menjadi jauh berkurang.

DiTaman Nasional Bali Barat.pernah dilaksanakan proyek BirdLife International,yaitu “Penyelamatan Jalak Bali”. Penelitian lapangan dan pengelolaan habitat tidak berhasil membendung penurunan jumlahnya, dari beberapa ratus individu pada tahun 1970-an menjadi tinggal beberapa puluh saja. Masalah lain yang juga mengkhawatirkan, yaitu tidak terkontrolnya penangkapan burung tersebut untuk dijual di pasar burung serta jarangnya pohon yang cocok untuk bersarang (akibat pembakaran dan penebangan hutan di habitat yang sudah sempit ini). Usaha untuk melepaskan burung hasil penang-karan ke habitat alami untuk menambah populasi setempat aslinya juga kurang berhasil.

Kelangkaan burung di pedesa’an di Jawa, baik ditinjau dari jumlah maupun keaneka-ragamannya, sangat menyedihkan. Hal ini disebabkan oleh kombinasi antara penggu-naan pestisida, kehilangan habitat, dan penembakan dengan senapan angin dan katapel. Di Sumatera, situasinya agak lebih baik, karena masih ada hutan tertutup seluas 20-30%. Akan tetapi, hutan seluas ini juga dapat menghilang dengan sangat cepat, apalagi laju pertambahan penduduk di sini lebih cepat dibandingkan dengan di pulau-pulau lain.

Kehilangan hutan di Sumatera tidak merata, bergantung kepada tipe hutan tersebut. Hutan kayu besi benar-benar sudah hilang, hutan Dipterocarpaceae dataran rendah hanya terdapat di cagar alam, hutan rawa ditebang dan dibakar dengan cepat. Hanya hutan pegunungan tinggi yang masih dalam keadaan baik untuk semua jenis endemik Sumatera, tetapi hutan ini juga menghadapi tekanan dari perburuan dan sistem pertanian tebang-bakar.

Karenanya, beberapa jenis burung dataran rendah dan perbukitan di Sumatera sudah hampir lenyap. Beberapa jenis sudah tidak pernah terlihat sejak beberapa tahun terakhir, beberapa jenis lainnya bahkan diperkirakan sudah jarang. Lampiran 2 memuat daftar 43 jenis burung yang sedang terancam. Di sepanjang pesisir timur Suma-tera, terdapat beberapa daerah yang sangat penting bagi perkembangbiakan jenis burung lahan basah serta beberapa daerah penting untuk mendukung burung pantai yang sedang bermigrasi. Kawasan ini berupa lahan basah yang penting dan sangat perlu dilin-dungi, tetapi sayang, kebanyakan tidak dimasukkan ke dalam sistem kawasan konservasi.

Sistem kawasan konservasi di Sumatera mencakup berbagai ekosistem yang jauh lebih lengkap dibandingkan dengan di Jawa. Taman Nasional Gunung Leuser dan Kerinci Seblat yang sangat luas, secara bersama melindungi semua jenis burung bukit dan burung gunung yang diketahui sampai sekarang. Kawasan konservasi lain umumnya meliputi semua habitat yang lain. Di Sumatera terdapat tiga puluh kawasan konservasi, meliputi 45.000 km2 atau 10% dari luas pulau.

Hal ini mestinya cukup untuk melin-dungi hampir semua jenis burung yang ada di sini, dengan asumsi kawasan lindung ini tidak disentuh lagi, tetapi sayangnya kenyataannya tidak demikian. Konsesi hutan telah beroperasi selama bertahun-tahun di bagian timur dan bagian selatan lereng Leuser dan sisi barat Kerinci. Petani dan penanam kopi memperluas ladangnya makin ke dalam kedua kawasan tersebut.

Seluruh Taman Buru Kerumatan dan sebagian wilayah Taman Nasional Way Kambas telah ditebang dan dibakar. Taman Nasional Berbak terancam oleh penghuni Bugis yang menebang pohon dan bertani di zona pesisir di kawasan kon-servasi ini. Taman Buru Padang Sugihan telah rusak berat karena kebakaran.

Konsesi hutan telah menebang kawasan yang luas di dalam kawasan konservasi Taitaibatti dan Barisan Selatan. Semua kawasan konservasi ini menghadapi tekanan yang berat dari pengumpulan kayu bakar dan pemburu liar. Masalahnya sangat berbahaya, tetapi Departemen Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA) masih terlalu lemah untuk melakukan pengendalian, baik terhadap petani maupun kepentingan ekonomi yang sangat kuat, yang mengancam keutuhan kawasan konservasi ini.

Peta di sebelah memperlihatkan bahwa berkurangnya hutan di Sumatera sangat menge-jutkan, seperti telah ditemukan pada foto satelit.

Keadaan hutan di Kalimantan tampaknya sedikit lebih baik. Hampir 60% pulau ini masih berupa hutan. Terdapat 37 kawasan konservasi utama, meliputi 35.000 km2 atau 5% luas daratan. Sekarang, sedang diajukan permohonan untuk perluasan kawasan kon-servasi atau kawasan hutan lindung. Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, atau sebagian pesisir Sarawak dan Sabah mengalami kehilangan hutan yang sama buruknya dengan di Sumatera. Tetapi karena Kalimantan sangat luas, masih ditemukan hutan yang luas di bagian selatan dan tengahnya. Hampir semua pegunungan, tempat kebanyakan jenis endemik berada dilindungi sebagai cagar alam atau hutan lindung.

Gambaran di atas tidak berarti menunjukkan bahwa semuanya berjalan dengan baik. Masih ditemukan banyak masalah, seperti luas kawasan konservasi pelestarian dataran rendah yang sangat sedikit serta selalu dalam keadaan terancam.

Di Kutai, sudah terjadi penebangan pohon secara besar-besaran, kebakaran hutan, dan perambahan hutan oleh petani. Hutan batu kapur di Kalimantan Timur tidak dilindungi, dan sekarang rusak karena kebakaran. Hutan rawa yang subur di Kalimantan Timur, dengan luas total 3 juta hektar, telah terbakar secara keseluruhannya pada tahun 1982. Hutan luas lainnya ter-bakar pada tahun 1991.

Dataran rendah di Kinabalu dikeluarkan dari kawasan taman nasional dan ditebang, bagian lainnya rusak akibat kegiatan pertambangan tembaga. Gunung Palung, Tanjung Puting, dan Bukit Raya dirambah oleh perusahaan HPH dan penghuni baru. Danau Sentarum terancam oleh aktivitas ratusan nelayan musiman di sekitarnya. Semua masalah ini sebenarnya cukup berbahaya bagi kelangsungan populasi satwa liar lokal, walaupun baru beberapa jenis burung yang terancam punah di Kalimantan. Lampiran 2 menunjukkan adanya 20 jenis yang terancam punah.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s