Kapan dan di mana kita dapat melihat burung?

Meskipun musim di kawasan tropis tidak jelas seperti di kawasan beriklim dingin, burung-burung tropis sangat sensitif terhadap pergantian suhu dan memperlihatkan pola yang agak musiman untuk berkembang biak. Secara tidak langsung, avifauna dapat memberikan gambaran mengenai perubahan cuaca yang lebih dramatis di daerah ber-iklim sedang, karena sekitar 25% dari seluruh burung di sini terdiri atas burung migran dari kawasan, beriklim sedang.

Kebanyakan berasal dari utara dan mencapai daerah ini ketika belahan bumi utara sedang musim dingin, tetapi beberapa di antaranya bermigrasi dari selatan yaitu dari Australasia. Selain itujuga ada beberapa di antaranya yang datang dari samudera.

Cuaca di kawasan ini sangat dipengaruhi oleh iklim musim dingin, yang terjadi ketika tekanan yang tinggi di daratan Asia dan angin dingin yang basah bertiup ke selatan menyapu kawasan Sunda Besar. Dari bulan November sampai April merapakan bulan yang paling dingin dan paling basah dalam setiap tahunnya.

Berbagai golongan burung menanggapi cuaca basah ini dengan cara yang berbeda. Pada akhir musim hujan (pada awal musim semi) ketika air mencapai level tertinggi, burung air membuat sarang di atas pohon yang tumbuh di dalam air sehingga aman.

Banyak burung pemangsa serangga juga berbiak pada akhir musim hujan ketika serangga paling banyak ditemukan. Burung pemakan buah berbiak sedikit lebih lambat, yaitu pada akhir tahun ketika banyak pohon dan semak sedang berbuah. Burung yang paling lambat berbiak adalah burung daerah terbuka dan pemakan biji-bijian, yaitu pada musim lebih kering. Di P. Jawa yang paling beragam iklimnya, musim berbiak di bagian timur dan di Bali, umumnya berlangsung setelah sebulan atau dua bulan masa berbiak di Jawa bagian barat.

Pada musim gugur, burung migran dari utara mulai berdatangan. Puluhan ribu ayam-ayaman, perancah, elang, kepinis, sikatan, apung, dan kicuit berpindah melalui pesisir timur Asia Tenggara menuju tempat hidupnya pada musim dingin, yaitu di Sunda Besar dan Nusa Tenggara. Penyeberangan yang utama adalah dari Cape Rachado di Seme-nanjung Malaysia ke Sumatera. Beberapa minggu kemudian, burung-burung menyebe-rangi Selat Sunda (antara P. Sumatera dan P.Jawa), berpindah-pindah di sepanjang pesisir utarajawa, kemudian menyeberangi suatu selat sempit, menuju Bali dan Nusa Tenggara.

Jalan lintasan ini dilewatinya dengan cepat, tetapi di sepanjang jalur ini ada yang turun di beberapa tempat untuk tinggal pada musim dingin, guna membagi rata tekanan ter-hadap sumber makanan setempat. Lintasan migrasi lain menuju ke Kalimantan bagian utara dan Filipina. Waktu untuk kembali adalah pada awal musim semi, ketika

kebanyakan burung tersebut sudah berganti bulu selama masa berbiaknya dan berkicau dalam mengantisipasi musim panas yang akan datang.

Di dataran tinggi Kelabit di Kalimantan, perpindahan burung inrmenjadi dasar pem-buatan kalender. Bulan ketika Kicuit kerbau datang disebut Sensulit mad’ ting, bulan berikutnya disebut Sensulit peremng yang artinya masa ketika Kicuit tinggal. Bulan Oktober sampai November disebut Neropa, yaitu bulan ketika burung Bentet coklat dan bulan terakhir untuk penanaman yang tepat waktu, diikuti oleh Kornio piting untuk Elang-alap Nipon dan Padawan untuk burung Anis. (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s