Biogeografi burung: Avifauna Sunda Besar

Kepulauan Sunda Besar terbentang pada salah satu wilayah zoogeografi yang paling menarik di dunia, yaitu Kepulauan Indonesia-Malaysia. Kepulauan ini terdiri dari seki-tar 17.000 pulau yang terbentang sepanjang 5.000 km di khatulistiwa, di antara daratan Asia dan benua Australia.

Kepulauan ini dapat dibagi menjadi tiga subkawasan yang berbeda-beda faunanya yaitu:

a. Subkawasan Australo-Papua, terdiri dari seluruh pulau yang terbentang di Dangkalan Sahul atau Dangkalan benua Australia, seperti Aru, P. Irian, dan New Britain.

b. Subkawasan Sunda, terdiri dari semua pulau yang terbentang di Dangkalan Sunda atau Benua Asia, yaitu Kalimantan, Sumatera, Jawa, dan Semenanjung Malaysia.

(Meskipun bukan sebuah pulau, tetapi Semenanjung Malaysia secara fauna lebih identik dengan Kep. Sunda Besar dibandingkan dengan benua Asia lainnya).

c. Subkawasan Wallacea, terdiri dari semua pulau yang terbentang di antara dua dangkalan benua tersebut, yaitu Filipina, Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara.

Selama jaman es pada Kala Plestosen (antara tiga juta sampai 8.000 tahun yang lalu), iklim di planet bumi sangat tidak stabil darl beberapa kali berubah, dari periode hangat dan basah (pluviat) sampai periode dingin dan kering (interpluviat). Periode interpluvial berhubungan dengan periode jaman es (glaciat) di daerah beriklim sedang. Pada waktu itu, sebagian besar kutub utara dan kutub selatan tertutup oleh es sehingga permukaan laut turun sampai sedalam 100 meter. Hal ini menyebabkan banyak tanah di Sunda Besar (yang sekarang tenggelam di bawah Laut Sunda dan Laut Jawa), muncul ke perrnukaan. Pulau Kalimantan, Sumatera, dan Jawa bersatu dengan daratan Asia, sehingga dapat dikoloni oleh fauna dan flora Asia. Penyatuan ini berakhir lebih kurang 10.000 tahun yang lalu.

Pola dan lamanya penyatuan ini sangat berpengaruh terhadap penyebaran jenis dan keadaan bentuk endemik pada masa sekarang. Dampaknya berbeda-beda terhadap setiap pulau. Misalnya, P. Jawa lebih kecil dan lebih terpencil dibandingkan dengan P. Sumatera dan P. Kalimantan. Karena penyatuan P. Jawa dengan daratan Asia tidak selama penyatuan pulau-pulau Sumatera dan Kalimantan, maka Jawa tidak kaya faunanya, tetapi proporsi endemiknya lebih tinggi. Di sisi lain, P. Jawa beriklim lebih kering (lebih mirip dengan iklim ketika bersatu dengan daratan Asia). Karenanya, di P.Jawa masih ada 30 jenis burung hutan dari Asia (yang sudah hilang dari Sumatera dan Kalimantan), seperti Merak hijau.Takur bultok, Sepah kecil, dan beberapa jenis lainnya.

Kalimantan merupakan pulau terbesar, tetapi letaknya lebih jauh dari daratan utama dibandingkan dengan Sumatera. Akibatnya, dibandingkan dengan di Sumatera.jumlah jenis burung di Kalimantan lebih sedikit, tetapi jenis endemiknya lebih banyak. Kebanyakan jenis endemik di pulau ini terdapat di gunung. Sebabnya adalah pegunungan itu ibarat pulau hijau padajaman interpluvial, yang merupakan dataran rendah yang lebih kering sehingga dapat dikoloni jenis-jenis Asia. Kemajuan apa pun yang terjadi dalam pembentukan jenis di dataran rendah selama pemisahan (pada jaman pluviat), selalu kebanjiran dan larut setiap adanya pencampuran antarpulau tersebut.

Peta pada halaman berikut memperlihatkan kawasan dan laut-laut dangkal yang muncul selama permukaan laut paling rendah. Jelas terlihat sebab terjadinya:

•   perubahan yang dahsyat pada jenis-jenis burung antara Kalimantan dan Sulawesi (padahal jarak yang diseberangi relatif dekat),

•  hubungan antara burung di Palawan dengan di Kalimantan sama dekatnya dengan hubungan antara burung di Palawan dengan di Filipina,

•   adanya beberapa persamaan yang aneh antara fauna di P. Jawa dan fauna di Kalimantan bagian tenggara.

Palung yang dalam memisahkan Sumatera dan Kep. Mentawai menjelaskan centang perbedaan yang nyata dengan Kep. Mentaur lain yang pernah menyatu dengan P. Sumatera pada waktu tertentu. Sifat endemik dan lebih terisolasi jenis mamalia Mentawai yang tidak dapat terbang, menyebabkan perbedaan lebih mencolok lagi dengan burung-burung di pulau ini (terdapat tidak kurang dari 10 jenis mamalia endemik).

Kita dapat melihat dengan lebih jelas hubungan antara setiap pulau jika analisis dibatasi hanya terhadap burung darat (dengan mengecualikan burung migran, burung laut, burung air, perancah, dan elang yang memiliki penyebaran luas).Jenis burung darat berjumlah 541, dengan penyebaran sebagai berikut: 171 (34%) ditemukan di satu dari tiga pulau utama, kebanyakan jenis (164 jenis) juga ditemukan di Semenanjung Malaysia, dan 135 jenis bersifat endemik di Kep. Sunda Besar (ditambah enam jenis endemik dari suku yang dikecualikan).

Fauna P.Jawa relatif miskin, hanya 289 jenis dari jumlah seluruh jenis. Sebanyak 57% di antaranya (164 jenis) juga terdapat di pulau-pulau lainnya, dengan perincian: 176 jenis (61%) juga terdapat di Kalimantan, 215 jenis (74%) juga terdapat di P. Sumatera, 49 jenis (17%) terdapat di pulau di luar Sunda Besar, dan 30 jenis (10%) merupakan jenis yang endemik.Yang menarik adalah adanya 30 jenis yangjuga terdapat di AsiaTenggara, tetapi tidak ditemukan di tempat lain di Sunda Besar. Banyak di antaranya bahkan tidak ada di Semenanjung Malaysia.

Kebanyakan jenis tersebut adalah burung hutan musim dan semak belukar, seperti Merak hijau, Perenjak coklat, dan Cinenen pisang. Hal ini mencerminkan iklim di Jawa Timur yang pada umumnya lebih kering dengan habitat savana dan hutan musim yang lebih luas. Sekitar 28% dari burung di Jawa adalah burung-burung pegunungan, proporsinya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan dua pulau lainnya. Bali terlihat dengan jelas sebagai duplikasi dari burung-burung Jawa. Sebanyak 97% burung di Bali juga terdapat di Jawa, sedangkan dengan pulau Nusa Tenggara hanya berbagi 54%.

Kalimantan mempunyai 358 jenis atau 66% dari jumlah burung penetap di darat. Sebanyak 164 jenis (46% dari jumlah total) juga terdapat di semua pulau yang lain.

Sejumlah 306 jenis (85%) juga terdapat di Sumatera. Jumlah yang hampir sama (297 jenis atau 83%) juga terdapat di Semenanjung Malaysia. Hanya 177 jenis (49%) juga ter-dapat di Jawa dan 42 jenis (12%) terdapat di pulau-pulau di luar Sunda Besar. Sebanyak 37 jenis (10%) merupakan burung endemik. Umumnya endemik pegunungan, tetapi ada juga endemik dataran rendah, seperti Sempidan Kalimantan dan Tiong-batu Kalimantan. Secara keseluruhan, 24% dari burang Kalimantan merupakan burung pegunungan, jumlahnya sedikit lebih kecil dibandingkan dengan Sumateia. Mungkin ini mencerminkan bahwa luas pegunungan di Kalimantan lebih kecil (6%).

Sumatera lebih beruntung karena hubungannya lebih dekat dengan daratan Asia dan memiliki 397 jenis (dari total 541 jenis). Tetapi karena kurang terisolasi, maka jenis endemiknya menjadi sedikit, hanya 22 jenis (6%), termasuk jenis endemik di beberapa pulau kecil.Tidak satu pun burung endemik tersebut merupakan jenis endemik dataran rendah. Sumatera memiliki 306 jenis (77%) yangjuga terdapat di Kalimantan, 345 jenis (87%) juga terdapat di Semenanjung Malaysia, dan 211 jenis (53%) terdapat di Jawa.

Hubungan dekat antara burung-burung Semenanjung Malaysia dengan burung-burung Kep. Sunda Besar memperlihatkan bahwa Semenanjung Malaysia lebih tepat dimasukkan ke dalam wilayah avifauna Sunda Besar daripada ke Asia Tenggaia daratan. Hanya 46 jenis burang yang ditemukan di Semenanjung Malaysia, tetapi tidak ditemukan di Kep. Sunda Besar. Sepuluh jenis di antaranya adalah burung migran, pengembara, atau ditemukan di pinggiran semenanjung. Hanya tiga jenis yang endemik. Sisanya, sejumlah 33 jenis adalah jenis-jenis Asia Tenggara yang penyebarannya sampai ke semenanjung ini. Daftar jenis ini dapat dilihat pada Lampiran 5.

Pulau Palawan merupakan pulau yang menarik.Tidak seperti pulau-pulau lainnya di Filipina (yang terpisah dari Kalimantan oleh palung yang dalam), Palawan terbentang pada perluasan Dangkalan Sunda, bahkan beberapa kali pada jaman prasejarah bersatu dengan Kalimantan. Akibatnya, fauna di pulau itu merupakan campuian dengan jenis-jenis Filipina/Wallacea (77 dari 118 jenis),jenis~jenis Kalimantan 80 jenis, serta 14jenis (12%) endemik di P. Palawan.

Peta di halaman 18 memperlihatkan hubungan antar pulau. Ukuran lingkaran di-sesuaikan dengan jumlah jenis penetap di setiap pulau. Ketebalan garis yang menghubungkan lingkaran menyatakan jumlah mutlak jenis-jenis yang terdapat di kedua pulau. Sedangkan persentase yang diberikan pada garis tersebut menunjukkan proporsi yang lebih kecil untuk jenis fauna di antara fauna-fauna yang terdapat di pulau yang jumlah faunanya lebih besar.

Fauna Burung di Pulau-pulau Kecil

Di antara berbagai suku dan jenis, terlihat adanya variasi kemampuan untuk menyebar atau tetap bertahan di pulau-pulau kecii Lampiran 3 memperlihatkan penyebaran burung-burung darat yang ditemukan di pulau-pulau kecil. Data beberapa jenis agak kurang lengkap, tetapi umumnya penyebaran tersebut cocok dengan dugaan dalam teori biogeografi. Teori ini menyebutkan bahwa di pulau-pulau yang lebih kecil atau yang lebih jauh dari daratanjumlah burung lebih sedikit dibandingkan dengan pulau-pulau yang lebih besar atau yang lebih dekat dengan daratan.

Beberapa suku seperti merpati-merpatian (Cblumbidae) memperlihatkan kemam-puan yang baik untuk bertahan di pulau-pulau kecil. Jenis-jenis lain, seperti pelatuk (Picidae) dan pengoceh (Timaliidae), memperlihatkan kemampuan yang sangat buruk. Jenis-jenis dari kedua suku ini hanya terdapat cukup banyak di P. Bangka, yang ber-ukuran besar dan sangat dekat ke P. Sumatera. Beberapa jenis, seperti Junai emas serta beberapajenis pergam dan burung gosong, penyebarannya terbatas di pulau-pulau kecil. Pulau-pulau kecil yang terpencil mempunyai beberapa jenis endemik dan banyak ras endemik.

Menarik untuk diketahui bahwa di P. Bangka dan Belitung terdapat beberapa burung dari ras Kalimantan, bukan ras Sumatera, padahal kedua pulau tersebut terletak di dekat Sumatera. Hal ini diduga karena di pulau-pulau ini terdapat hutan kerangas satu-satu-nya yang paling luas di Sumatera, suatu habitat yang jarang di Sumatera, tetapi umum di Kalimantan. Selain itu, kedua pulau ini terbentang di atas jembatan yang menghubungkan Kalimantan dan Sumatera pada masa permukaan air laut paling ren-dah (kala Plestosen interpluvial).

Hubungan yang sama seperti di atas diperlihatkan oleh adanya beberapa burung yang sama-sama terdapat di Kalimantan dan Jawa (1) atau Kalimantan dan Sulawesi (2), yaitu di sudut tenggara P. Kalimantan, yang tidak terdapat atau jarang di bagian lain pulau ini. Contohnya adalah Gelatik-batu abu-abu (1), Betet biasa (1), Kacamata Jawa (1), Itik benjut (1&2), Mandar kelam (2), dan Burung-sepatu jengger (2). (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s